Melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

0 komentar


Tanya : Apa makna hadits :
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ، وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي
“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga. Setan tidaklah bisa menyerupai diriku”.
Apakah mungkin kita melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga, padahal beliau telah meninggal ?.
Jawab : Hadits dengan lafadh tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy[1] no. 6993 dan darinya Al-Baghawiy[2] dalam Al-Anwaar fii Syamaailin-Nabiy hal. 785 no. 1257 : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdaan : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah, dari Yuunus, dari Az-Zuhriy : Telah menceritakan kepadaku Abu Salamah : Bahwasannya Abu Hurairah berkata : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Shalat Menghadap Gambar

6 komentar


Saya mengutip penjelasan Asy-Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidhahullah dalam kitab Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaail-Mushalliin [Daar Ibnil-Qayyim, Cet. 4/1416 H], dalam sub bab Ash-Shalah fits-Tsaubil-Ladzii ‘alaihish-Shuurah (hal. 47-51, dengan peringkasan) :
عن عائشة ـ رضي الله عنها ـ قالت : قام رسول الله يصلّي في خميصةٍ ، ذات أعلام ، فلما قضى صلاته قال: اذهبوا بهذه الخميصة إلى أبي جهم بن حذيفة ، وأتوني بأنْبِجَانيّة ، فإنها ألهتني آنفاً في صلاتي
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri melakukan shalat dengan mengenakan khamishah (baju) yang ada gambarnya. Ketika selesai dari shalatnya, beliau bersabda : Pergi dan berikanlah khamishah ini kepada Abu Jahm bin Hudzaifah, dan berikanlah aku baju anbijaniyyah (baju biasa), karena khamishah tadi telah membuat tidak khusyu’ dalam shalatku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 373, Muslim no. 556, An-Nasaa’iy 2/72, Ibnu Majah no. 3550, Abu ‘Awaanah 2/24, Maalik 1/91, dan Al-Baihaqiy 2/423].

QS. An-Nahl : 44

2 komentar


Allah ta’ala berfirman :
بِالْبَيّنَاتِ وَالزّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذّكْرَ لِتُبَيّنَ لِلنّاسِ مَا نُزّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلّهُمْ يَتَفَكّرُونَ
”Keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan”[QS. An-Nahl : 44].
Penjelasan Lafadh
1.     بِالْبَيّنَاتِ, yaitu  بالحجج والدلائل = dengan hujjah-hujjah dan dalil-dalil.
2.      وَالزّبُرِmerupakan jamak dari  زبور, yaitu  الكتب = kitab-kitab (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbaas, Mujaahid, Adl-Dlahhaak, dan selain mereka – lihat Tafsir Ibni Katsir). Hal ini sebagaimana perkataan orang Arab :

Hukum Ucapan Selamat atas Kedatangan Bulan Ramadlaan

0 komentar


Ucapan selamat atau tahni’ah (التهنئة) merupakan perkara ‘adat yang hukum asalnya mubah (boleh), termasuk tahni’ah atas kedatangan bulan Ramadlaan. Tahni’ah diperbolehkan selama tidak ada dalil yang memalingkan dari asal kebolehan ini ke hukum yang lain. Dalil diperbolehkannya tahniah Ramadlaan di antaranya adalah riwayat :
حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ: " قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ "
Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid : Telah mengkhabarkan kepada kami Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan khabar gembira kepada para shahabatnya : “Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadlaan, bulan yang diberkahi, bulan yang Allah telah wajibkan kepada kalian padanya untuk berpuasa. Pada bulan tersebut dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu Al-Jahiim (neraka), dan dibelenggu setan-setan. Pada bulan tersebut juga terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang dicegah dari kebaikannya, sungguh ia tercegah (mendapatkan kebaikannya tersebut)” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/59 (14/541) no. 8991; shahih[1]].

Bulan Terbelah

24 komentar


Tanya : Saya pernah membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa bulan pernah terbelah di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apakah pernyataan ini memang benar adanya atau hanya takhayul yang berkembang di masyarakat lalu masuk ke ajaran Islam ? Sebab banyak orang di masa sekarang mengingkarinya karena bertentangan dengan ilmu dan teknologi (IPTEK).
Jawab : Pernyataan mengenai terbelahnya bulan di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah haq (benar). Bahkan itu merupakan aqidah yang harus diyakini/diimani oleh setiap muslim yang mengaku bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah nabinya. Peristiwa itu telah disebutkan Allah dalam Al-Qur’an serta dikhabarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya dalam As-Sunnah Ash-Shahiihah.